Novel Rahasia Ranjang Setan

Novel Rahasia Ranjang Setan
Gratis!
Dua Penunggang kuda itu memacu kuda masingmasing laksana dikejar setan. Dalam waktu singkat keduanya telah meninggalkan daerah berbukit-bukit yang penuh dengan pohon-pohon teh.

Selewatnya sebuah jembatan kayu di atas sungai barair kuning mereka membelok ke arah utara, memasuki hutan kecil, terus mengambil jalan ke timur hingja akhirnya memasuki sebuah desa di pinggiran Wonosobo.

Saat itu sang surya baru saja muncul di ufuk timur. Udara masih terasa dingin dan embun masih bartengger di atas dedaunan. Kedua penunggang kuda tadi berhenti di halaman sebuah rumah besar menterang yang atapnya
berbentuk joglo.

Download di sini

Sumber Kutipan: http://www.perpusonline.com
Sumber File: http://rajaebookgratis.wordpress.com

Stilistika; Kajian Puitika Bahasa, Sastra, dan Budaya

Stilistika; Kajian Puitika Bahasa, Sastra, dan Budaya
Buku
Sumber: Kompas 16 Maret 2010
Judul Buku : Stilistika; Kajian Puitika Bahasa, Sastra, dan Budaya
Peresensi : Supriyadi*)
Penulis : Prof. Dr. Nyoman Kutha Ratna
Penerbit : Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Tebal : xi + 480 halaman

Memahami Gaya dan Keindahan Bahasa

Bahasa merupakan media, alat, atau sarana untuk komunikasi manusia yang satu dengan yang lainnya. Dengan bahasa, umat manusia bisa saling berinteraksi antara satu dengan yang lainnya. Dengan demikian, tersampaikanlah pesan dari orang ke satu kepada orang yang lain, bahkan orang yang lain pun bisa membalas pesan tersebut kepada orang ke satu (pengirim pesan). Hal itu karena bahasa yang digunakan mampu diiterpretasi dan dipahami oleh kedua belah pihak, yakni pengirim pesan dan penerima pesan.

Pada dasarnya, semua makhluk hidup (manusia, binatang, dan tumbuhuan) itu berbahasa. Akan tetapi, hanya manusia yang dihukumi mempunyai bahasa karena hanya manusia yang memiliki akal pikiran untuk belajar dan mempelajari sesuatu, termasuk bahasa. Meski demikian, binatang juga mempunyai bahasa untuk bisa berkomunikasi dengan binatang lain, bahkan dengan manusia, entah itu menggunakan isyarat atau bahasa tubuh yang sekiranya bisa dipahami.

Selain sebagai alat komunikasi, bahasa juga merupakan identitas suatu kelompok. Suatu kelompok bisa teridentifikasi dari mana asalnya dengan tutur bahasa yang digunakan, gaya berbahasa, dan khas pengguna bahasa. Orang Indonesia akan diketahui bahwa ia berasal dari Indonesia jika ia menggunakan bahasa Indonesia sesuai dengan logat bahasa Indonesia. Orang Jawa, Sunda, Batak, dan yang lainnya juga dapat diketahui dari bahasa yang digunakan karena dari masing-masing bahasa tersebut memiliki entitas dan cirri khas yang berbeda-beda sehingga dapat diklarifikasi. Berkaitan dengan hal itu, bahasa juga bisa digunakan dalam budaya bahasa oleh masing-masing kelompok.

Dalam kajiannya, bahasa juga bisa melahirkan karya sastra yang indah. Terlepas dari fungsi bahasa sebagai alat komunikasi, bahasa bisa menjadi sebuah karya sastra yang indah jika disusun dengan diksi (pilihan kata) yang bagus dan sarat akan makna yang mendalam. Dalam hal ini, masing-masing bahasa dengan setiap periodisasinya memilki khas keindahannya. Karya sastra yang lahir dari rahim bahasa itu antara lain; puisi, sajak, cerita pendek, dan lain-lain.
Prof. Dr. Nyoman Kutha Ratna dalam bukunya yang berjudul Stilistika; Kajian Puitika Bahasa, Sastra, dan Budaya dengan lugas memaparkan pembahasan gaya bahasa Indonesia dalam kajian bahasa sastra dan budaya. Gaya bahasa (style),adalah cara-cara khas bagaimana segala sesuatu diungkapkan dengan cara tertentu sehigga tujuan yang dimaksudkan dapat dicapai secara maksimal. Dengan demikian ini, gaya bahasa beragam menurut adat dan budaya berbahasa masing-masing daerah.

Stilistika, yakni ilmu tentang gaya bahasa, menjadi suatu disiplin ilmu yang mempelajari gaya-gaya bahasa. Sebenarnya, penggunaan dari gaya dan ilmu gaya itu secara luas meliputi seluruh aspek kehidupan manusia, bagaimana segala sesuatu dilakukan, dinyatakan, dan diungkapakan. Secara sempit, gaya dan atau ilmu gaya digunakan pada kajian bahasa dan sastra, khususnya adalah puisi.

Gaya bahasa adalah cara tertentu, dengan tujuan tertentu. Meskipun demikian, gaya tidak bebas sama sekali. Gaya lahir secara bersistem, sebagai tata sastra. Memang benar ada kebebasan penyair, tetapi gaya tetap berada dalam aturan, sebagai puitika sastra (hal. 386).

Dalam pembicaraan puisi, adalah termasuk sastra. Dalam sastra secara substantif, terkandung gaya (style) dan keindahan (esthetic). Antara stilistika dan estetika, sebenarnya saling melengkapi keberadaannya. Seluruh aspek keindahan dalam karya sastra terkandung dan dibicarakan melalui medium, yaitu unsur-unsur gaya bahasanya. Stilistika menampilkan keindahan, sementara keidahan melibatkan berbagai sarana yang dimiliki oleh gaya bahasa. Stilistika lahir dari rahim retorika, sementara estetika dari filsafat. Keberbedaan asal itulah yang menjadikan saling melengkapi antara keduanya.

Indonesia, telah melahirkan berbagai karya santra. Chairil anwar dengan Aku-nya membangun gaya tersendiri dalam karakter berpuisinya. Putu Wijaya hingga Zawawi Imran juga telah membangun gaya dan karakternya dalam berbahasa dan mengolah bahasa menjadi karya sastra puisi. Dengan demikian, masing-masing penyair memiliki khas yang berbeda-beda.

Begitu pun secara periodik, puitika atau karya sastra di Indonesia pun relatif berubah dari masa ke masa. Periodisasi tersebut terbagi dalam beberapa masa, yakni angkatan balai pustaka (‘20-an), pujannga baru (’30-an), angkatan ’45, angkatan ’60 hingga angkatan ’70 dengan ciri sastra populer dan sastra perempuan. Kemudian periode sastra angkatan 2000-an dengan ciri postmodernisme.

Karakter yang dibangun pada masing-masing angkatan memiliki ciri tersendiri dalam melahirkan puitika karya sastra. Terlebih lagi periode sastra angkatan 2000-an seperti sekarang ini, keragaman berpuisi telah lebih mengenalkan heterogenitas gaya dan keindahan.

Buku yang berjudul Stilistika; Kajian Puitika Bahasa, Sastra, dan Budaya layak dijadikan referensi oleh siapa saja yang ingin mendalami stilistika sebagai analisis bahasa dan sastra yang terkait dengan budaya. Khususnya pada sastrawan dan ahli bahasa, buku ini sangat membantu dalam kajian-kajian bahasa dan sastra. Bahkan masyarakat sebagai penikmat karya sastra dan pengguna bahasa, akan diajak oleh penulis untuk menyelami stilistika dari sejarahnya hingga kemunculannya di Indonesia, serta kaitannya dengan estetika.

Bahasa merupakan alat kounikasi. Akan tetapi, selain itu, fungsi bahasa juga bisa berupa karya sastra yang menggunakan keindahan kata yang memikat. Indonesia mempunyai bahasa Indonesia yang mana bahasa tersebut telah meahirkan karya-karya yang indah.

*) Peresensi adalah Pustakawan dan Pengamat Sosial pada Yayasan Ali Maksum, Yogyakarta.

Sumber:http://resensibuku.com/?p=565

Menjelajah Pembelajaran Inovatif

Menjelajah Pembelajaran Inovatif
Buku
Sumber: BatamPos, Minggu, 27 Desember 2009
Peresensi: Salamet Wahedi
Judul buku: Menjelajah Pembelajaran Inovatif
Penulis: Dr. Suyatno, M.Pd.
Penerbit: Masmedia Buana Pustaka
Cetakan: Oktober 2009
Tebal: viii +176 halaman

Menjawab Tantangan Guru

Memperbincangkan pendidikan dewasa ini, seperti menelisik setiap sendi kehidupan manusia. Peranan dunia pendidikan tidak hanya sekadar mengemban amanat mencerdaskan kehidupan bangsa. Lebih dari itu, dunia pendidikan memiliki tanggung jawab moral membentuk manusia seutuhnya. Yaitu manusia yang mampu memahami dirinya sendiri.

Terlepas dari peran-fungsinya bagi setiap manusia, dunia pendidikan juga menjadi cerminan bagi survivenya suatu Negara-bangsa di tengah kancah pertarungan globalisasi. Maupun sebaliknya, kemajuan suatu Negara-bangsa juga dapat diukur sejauh mana dunia pendidikan yang dibangun di dalamnya. Dengan kata lain, dunia pendidikan menjadi barometer suatu Negara-bangsa dalam membaca dan melihat posisinya.

Maka tidak heranlah, sepanjang sejarah Negara-bangsa Indonesia, persoalan menemukan konsep dunia pendidikan yang ideal tak pernah usai. Hal ini berbanding lurus dengan gerak laju zaman yang selalu ditentukan dari riuh redam ruang kelas ataupun ruang kuliah para cendekia.

Lebih jauh, mencuat gonjang-ganjing Ujian Nasional (Unas) yang meresahkan berbagai elemen peserta didik, merupakan bukti paling mutakhir, bahwa dunia pendidikan selalu menuntut pada setiap peserta didik untuk selalu memikirkan, merumuskan dan menemukan konsep pendidikan yang ideal.

Selain persoalan konsep yang ideal dalam membentuk manusia yang seutuhnya, yang perlu diperhatikan adalah substansi dan esensi pendidikan itu sendiri. Seperti disinyalir dalam beberapa dekade terakhir ini, bahwa dunia pendidikan telah banyak mengalami berbagai kegagalan dalam membentuk karakter manusia seutuhnya. Dengan kata lain, tugas pendidikan banyak terabaikan. Terutama memanusiakan manusia. Artinya, dunia pendidikan selama ini tak ubahnya penjara bagi anak didik.

Di sinilah, kehadiran paradigma dunia pendidikan kritis yang diusung Paulo Freire (1986) menemukan ruang kontemplasinya. Lewat keyakinan akan pentingnya landasan pendidikan sebagai sebuah proses memanusiawikan manusia kembali, Freire coba memberikan jalan alternatif untuk memberontak pada tradisi dehumanisasi yang menyelimuti dinding ruang sekolah.

Untuk lebih memahami konsep pendidikannya, Freire menjabarkan kesadaran manusia menjadi tiga macam. Pertama, kesadaran magis, yakni kesadaran yang tidak mampu mengetahui antara faktor satu dengan faktor lainnya. Kedua, kesadaran naïf, yakni kesadaran yang melihat aspek manusia menjeadi penyebab masalah yang berkembang di masyarakat. Ketiga, kesadaran kritis, yakni kesadaran yang melihat sistem dan struktur sebagai sumber masalah.

Dengan mengacu pada kesadaran yang terakhir ini, dunia pendidikan selalu mendapatkan pertanyaan dari setiap peserta didiknya. Pertanyaan yang selalu merongrong kemandekan dan kejumudan lingkungan tumbuh kembangnya dunia pendidikan. Dengan kata lain, kesadaran kritis ini menuntut pada setiap peserta didik untuk terus menerus mempertanyakan, merombak, mencari dan merumuskan kembali setiap konsep pendidikan sesuai ruang waktu ke-disini-an dan ke-kini-an.

Di tengah tuntutan, tantangan serta berbagai persoalan kegagagalan dunia pendidikan, sosok guru merupakan pihak yang paling tertuduh. Sosok guru merupakan orang paling dimintai pertanggung jawabannya. Bahkan tidak ada alasan apa pun, yang dapat diberikan oleh seorang guru untuk membela dirinya.

Maka, ketika ujian nasional digulirkan dengan standar kelulusan yang cukup fantastis, sosok guru pulalah, yang mula-mula merasa ketar-ketir. Ia mesti bertanggung jawab atas segala apa yang akan terjadi pada peserta didik: frustasi, stress, depresi dan segala keputuasaan mental generasi bangsa ini.

Maka perbaikan dan evaluasi pada kemampuan seorang guru, seolah menjadi hal yang logis untuk dilakukan pertama kali dalam memecahkan persoalan dunai pendidikan. Maka, kehadiran buku “Menjelajah Pembelajaran Inovatif” karya Dr. Suyatno, M. Pd. merupakan menu mujarab setiap guru dalam mempersiapkan dirinya sebagai peserta didik yang paling dituntut.

Dalam buku ini, sosok guru diajak untuk berkenalan dengan paradigma baru pendidikan, yang menekankan hadirnya prinsip pembelajaran yang inovetif dan keberanian seorang guru untuk melakukan inovasi. Dengan prinsip pembelajaran inovatif, seorang guru akan mampu memfasilitasi siswanya untuk mengembangkan diri dan terjun di tengah masyarakatnya.

Hal ini dapat dipahami dengan memerhatikan beberapa prinsip pembelajaran inovatif, yaitu: (a) pembelajaran, bukan pengajaran; (b) guru sebagai fasilitator, bukan instruktur; (c) siswa sebagai subjek, bukan objek; (d) multimedia, bukan monomedia; (e) sentuhan manusiawi, bukan hewani; (f) pembelajaran induktif, bukan deduktif; (g) materi bermakna bagi siswa, bukan sekadar dihafal; (h) keterlibatan siswa partisipasif, bukan pasif.

Selain memberikan beberapa prinsip dasar, pembelajaran inovatif juga menekankan adanya pola dan strategi pendidikan yang utuh. Pola dan strategi pendidikan yang menitik bertakan pada tercipanya kesadaran peserta didik pada dirinya sendiri dan lingkungannya.

Selanjutnya, ketakutan dan keminderan seorang guru dalam melakukan ekpresi merupakan salah satu tumor pendidikan yang urgen untuk disembuhkan. Inilah salah satu hal yang esensial yang dibawa buku ini. Seorang guru sudah seyogyanya untuk yakin bahwa setiap guru tanpa terkecuali dapat berinovasi dalam pembelajarannya; seorang seyogyanya untuk yakin bahwa perbuatan-perbuatan kecilnya yang teliti, semisal mencatat perubahan tentang cara dan gaya mengajar setiap hari akan melahirkan hasil yang besar; serta seorang guru seyogyanya untuk terbuka menerima saran dan kritik dari guru lain, bila pola pembelajaran yang disampaikannya sama seperti yang kemarin (halaman 17)

Lebih jauh, keberanian seorang guru dalam berinovasi, serta merta akan membentuk karakternya menjadi kreatif. Kemampuan dan kapasitasnya, baik hard skill maupun soft skill, akan terasah dengan sendirinya. Kekreatifan seorang guru, akan berdampak tidak hanya pada pola komunikasi pembelajaran, tetapi juga akan membentuk suasana serta atmosfir pembelajaran yang menyenangkan (enjoy learning). Pembelajaran yang mampu mentransformasikan ilmu sekaligus mampu membetuk karaketr siswa yang manusiawi.

Di bagian akhir buku, juga diuraikan beberapa metode yang dapat digunakan oleh seorang kreatif dalam membangun suasana kelas yang familiar dan manusiawi. Suasana kelas yang tak lagi hadir sebagai ruang penjara yang dijejali teori, konsep dan tugas dari guru. Tetapi raung kelas yang mampu menggali potensi siswa dan menjernihkan nalar pikir anak didik dalam memahami dan mengaplikasikan kemampuannya untuk dirinya sendiri dan lingkungannya.

Di tengah berbagai tuntutan dan gonjang-ganjing dunia pendidikan, serta terealisasinya anggaran dua puluh persen APBN untuk pendidikan, kehadiran buku “Menjelajah Pembelajaran Inovatif’” memiliki arti dan peranan yang cukup penting. Pertama, buku ini dapat dijadikan referensi bagi setiap peserta didik untuk melihat paradigma baru dunia pendidikan masa kini. Kedua, buku ini dapat menjadi media motivasi bagi setiap guru untuk lebih berani dalam melakukan pola dan strategi pembelajaran yang inovatif; pembelajaran yang mampu menciptakan ruang dan suasana kelas yang familiar dan harmonis, serta dinamis bagi anak didik. Ketiga, buku ini dapat mendorong guru untuk lebih kreatif dalam melakukan transformasi keilmuan. Kreatifitas guru tentunya terletak pada kekayaannya memiliki metode dan aneka model pembelajaran, serta kecermatannya untuk memilih dan memilah metode dan aneka pembelajaran yang akan digunakan di setiap waktu yang berbeda.

Terlepas dari arti dan peran-fungsinya bagi peserat didik, terutama guru, buku “Menjelajah Pembelajaran Inovatif” memberikan sumbangsih yang cukup besar bagi dunia pendidikan.

Sumber:http://resensibuku.com/?p=511

Tafsir Mimpi, Menguak Simbol Misterius Alam Bawah Sadar

Tafsir Mimpi, Menguak Simbol Misterius Alam Bawah Sadar
Buku
Judul : Tafsir Mimpi, Menguak Simbol Misterius Alam Bawah Sadar
Penulis : Richard Craze
Penerbit : Kanisius, Yogyakarta
Terbit : 2010
Tebal : 96 Halaman
ISBN : 978-979-21-1944-2

Menafsir Misteri Tidur
Oleh Benni Setiawan*)

Mimpi selalu menyapa kita saat terlelap tidur. Sering kali ia disebut bunga tidur. Namun seringkali kita sulit mengingat apa yang kita impikan. Kalau pun kita ingat, mungkin sulit untuk dimengerti.

Selama tidur, otak kita aktif. Mimpi diperoleh melalui lapisan-lapisan yang lebih dalam di alam bawah sadar kita. Alam bawah sadar tidak berkomunikasi dengan menggunakan kata-kata atau melalui pemikiran, tetapi menggunakan gambar visual untuk menstimulasi intuisi dan perasaan kita. Ketika bangun, kita ditingal dengan sisa “perasaan” mengenai sesuatu yang ada pada kita sepanjang hari, sesuatu yang tertera dalam ingatan kita seperti jejak dalam salju. Kemudian apa sebenarnya yang dimaksud dengan mimpi?



Richard Craze dalam buku Tafsir Mimpi, Menguak Simbol Misterius Alam Bawah Sadar ini mendefinisikan mimpi sebagai serangkaian sumber atau peristiwa yang terjadi dalam pikiran. Pada umumnya, mimpi dialami ketika kita tidur, meskipun orang juga dapat masuk dalam keadaan yang mirip mimpi pada siang hari ketika sadar.

Gambar-gambar dalam mimpi tampaknya didasarkan pada pikiran atau pengalaman si pemimpi, meskipun sepertinya mimpi tertentu hanya sedikit atau sama sekali tidak berhubungan dengan kehidupan normal si pemimpi. Tepatnya bagaimana dan mengapa gambar-gambar itu muncul, apa kegunaan dan kepentingannya; merupakan pokok pembicaraan yang mendorong penelitian dan memicu banyak perdebatan (hlm. 34).

Buku ini merupakan sebuah panduan untuk memahami mimpi. Buku ini mengakui bahwa tidak ada dua orang yang persis sama dan karena itu tidak ada dua mimpi yang sama.

Ketika menafsirkan mimpi, buku ini memandang penafsiran lebih sebagai suatu pengalaman daripada teori yang berlaku: Anda bisa menjadi ahli penafsir mimpi Anda sendiri. Pendekatan ini sangat berbeda dari banyak kamus mimpi. Di situ, mungkin Anda bisa mencari arti lambang atau tema dari mimpi dan menerapkannya pada mimpi Anda.

Misalnya, Anda bermimpi melihat pohon. Beberapa buku mimpi menerangkan bahwa pohon berarti pertumbuhan, dan jika pohon itu berbuah, hal itu berarti meramalkan kelimpahan dan kekayaan. Tapi kekurangannya, kamus-kamus mimpi itu tidak menyemangati Anda untuk memandang pohon itu sendiri dan mencari apa arti pohon itu bagi Anda. Untuk melakukan itu, Anda harus mendekati mimpi dan diri Anda sendiri dengan semangat menyelidiki, mengajukan pertanyaan mengenai isi mimpi untuk bisa sampai kepada pemahaman atau pengertian Anda sendiri.

Berbekal buku ini Anda dapat mengenal berbagai jenis mimpi dan lambangnya, termasuk yang diungkap oleh Jung sebagai masukan dari alam bawah sadar kolektif, yang diungkapkan dalam pola dasar yang sudah dikenal umum.

Lebih dari itu, bersama buku ini Anda akan mampu menyingkap rahasia mimpi Anda. Tersingkapnya rahasia mimpi akan memberikan pemahaman yang lebih besar mengenai diri sendiri dan relasi-relasi Anda, serta menambahkan kemampuan untuk menghayati hidup Anda sepenuh-penuhnya.

Namun, buku ini bukan panduan mimpi yang bersifat klenik. Buku ini didasarkan pada penelitian serangkaian peristiwa-peristiwa ilmiah.

Pada akhirnya, semoga buku ini akan membawa terang dan semangat dan bisa digunakan sebagai batu loncatan untuk penemuan selanjutnya. Ingat, mimpi datang dari alam bawah sadar di malam hari, kegilaan, dan misteri. Untuk memahami mimpi, Anda harus merasakan alam di sekitar Anda, lebih menggunakan intuisi dan insting daripada penalaran dan logika, dengan demikian membuka rahasia-rahasia malam. Selamat membaca!

*)Benni Setiawan, Alumnus Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Sumber: http://analisisnews.com/analisis/resensi-buku/452-tafsir-mimpi-menguak-simbol-misterius-alam-bawah-sadar

You Are Not Alone: 30 Renungan tentang Tuhan dan Kebahagiaan

You Are Not Alone: 30 Renungan tentang Tuhan dan Kebahagiaan
Buku
Judul buku : You Are Not Alone: 30 Renungan tentang Tuhan dan Kebahagiaan
Penulis : Arvan Pradiansyah
Penerbit : Elex Media, 2010
Halaman : 252 hal., soft cover
Kategori : Spiritualitas; Inspirasional; Pengembangan Diri
ISBN : 978-979-27-7918-9
Harga : Rp.52.800,-

Menggugah Kesadaran akan Keberadaan Allah
Oleh Slamat P. Sinambela*)

The essence of religion did not lie in knowing or doing, but in the consciousness of being absolutely dependent or, which is the same thing, of being in relation with God. --- Frederick Schleiermacher, filsuf (1768-1834)

Buku You Are Not Alone adalah karya Arvan Pradiansyah yang kelima setelah You Are A Leader (2003), Life is Beautiful (2004), Cherish Every Moment (2007), dan The 7 Laws of Happiness (2008).

Kreatifitas perancang sampul buku ini membuat kata "Not" tidak begitu kelihatan, sehingga bila dibaca dari jauh, selintas berjudul "You Are Alone" (kamu sendirian). Faktanya, kita memang seperti itu, sendirian; atau merasa sendirian, padahal sesungguhnya tidak, sebab Tuhan menemani kita melintasi ruang dan waktu.

Arvan, narasumber tetap untuk talkshow "Smart Happiness" di Smart FM Network yang disiarkan di 22 kota di Indonesia ini, mencoba menggugah kesadaran kita akan keberadaan Allah. Senada dengan apa yang dikatakan Schleiermacher di awal tulisan ini, Arvan berpendapat bahwa alasan mengapa agama tak berkaitan dengan perilaku manusia karena agama hanya diajarkan dalam bentuk pengetahuan dan bukan spiritualitas.


Ia menyoroti perilaku masyarakat kita yang dikenal sebagai masyarakat religius tetapi sayangnya bukan masyarakat yang spiritual. Kita rajin pergi ke tempat ibadat tetapi begitu keluar dari tempat ibadah kita menjadi orang yang berbeda 180 derajat. Kita percaya kepada Tuhan tetapi tidak “beriman” kepada Tuhan. Ketika melakukan hal-hal tercela, kita melakukannya tanpa beban, seolah-olah Tuhan tidak melihat kita, bahkan seakan-akan Tuhan tidak pernah ada.

Kehadiran buku ini seakan tepat waktunya dengan kondisi yang terjadi pada bangsa kita: bencana alam seperti banjir Wasior, tsunami di Padang dan Kepulauan Mentawai, meletusnya Gunung Merapi, juga bencana politik kasus Bank Century, pola tingkah para wakil rakyat yang menodai akal sehat, kasus mafia hukum dan perpajakan Gayus, dan masih banyak lagi karut marut di bangsa ini. Buku ini, dari sudut pandang spiritual, membongkar pelbagai hal yang hakiki perihal persoalan yang kita hadapi sehari-hari.

Bagi Arvan, banyak persoalan yang muncul di tengah kehidupan kita terjadi karena lemahnya kesadaran kita akan keberadaan Allah. Sebutlah misalnya, bagaimanakah seharusnya memaknai bencana? Apakah bencana berarti Tuhan sedang marah seperti penafsiran beberapa tokoh agama yang tersiar di media massa?

Arvan mematahkan tafsiran itu. Pertama, menurut Arvan, pernyataan itu batal dengan sendirinya karena kenyataan di lapangan. Menurutnya, Tuhan seharusnya marah dengan orang-orang berdosa, para koruptor penghisap darah rakyat serta orang yang menyalahgunakan kekuasaannya. Sebab jika kita percaya Tuhan sedang marah, kita tak bisa menjelaskan mengapa Tuhan selalu marah dengan orang-orang baik.

Kedua, pernyataan Tuhan marah sangatlah tidak sesuai dengan sifat Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Cinta Tuhan bersifat unconditional.

Ketiga, pernyataan bahwa Tuhan marah sangat tidak bertanggung jawab. Pernyataan tersebut sangat memojokkan dan menuduh Tuhan sebagai biang keladi dari segala bencana. Pernyataan tersebut menunjukkan ketidakmauan kita bertanggung jawab.

Buku ini tidaklah diperuntukkan khusus bagi pemeluk agama tertentu. Arvan mengapresiasi berbagai ajaran yang mulia dan indah dari pelbagai agama. Oleh karena itu, Tuhan yang dibicarakan di dalam buku ini adalah Tuhan yang bersifat universal. Inilah salah satu keunggulan buku ini.

Dalam renungan-renungannya ini, Arvan menyuguhkan ilustrasi yang ciamik untuk melontarkan argumennya atas topik yang sedang dibahas. Di dalam halaman-halaman tertentu disisipkan khusus kata-kata mutiara yang dari para ahli agama.

Beberapa renungannya menyulut kontroversi, bahkan ulasannya pernah dikecam ketika diangkat secara “live” pada program radionya. Bacalah, misalnya, bab yang diberi judul Orang Beragama Belum Tentu Baik. Bab ini mencoba mengurai fenomena mengapa banyak orang beragama ternyata tidak baik dan sebaliknya, orang tidak beragama, atau tidak menjalankan agamanya dengan baik, tetapi dalam kehidupan sehari-harinya adalah orang baik.

Setelah perenungannya yang mendalam, Arvan mengajukan tiga kesalahan pokok dalam memaknai agama. Pertama, agama sering disosialisasikan dalam bentuk ritual semata. Sejak kecil kita belajar shalat namun kita lupa tidak pernah diajarkan” mengapa kita harus shalat?”

Kedua, agama sering diartikan sebagai sebuah kewajiban yang bila melakukannya akan diganjar pahala dan surga sedangkan mengabaikannya akan diganjar dosa dan neraka. Padahal kata-kata kewajiban seringkali bernuansa buruk. Kewajiban memberikan konotasi paksaan bagi orang yang melakukannya.

Ketiga, agama sering ditafsirkan sebagai urusan kita dengan Tuhan. Padahal esensi agama adalah kasih. Dalam argumen Arvan, tanpa kasih tidak ada gunanya kita beragama. Orang beragama mestinya dikenal karena rasa cintanya kepada sesama manusia.

Lewat renungan-renungannya Arvan seringkali dengan lugas mengoreksi pemahaman keberagamaan kita yang kadang picik, tertutup dan ekskusif. Ibarat sebuah sekolah rohani, buku ini menyibakkan berbagai wawasan kesadaran spiritual kita atas keberadaan Allah.

Seperti tujuan awalnya, ketiga puluh renungan ini berusaha memprovokasi para pembacanya untuk berubah secara spiritual menuju keadaan yang lebih baik dan memetik kebahagiaan hidup.

*)Slamat P. Sinambela, penerjemah dan editor lepas, tinggal di Semarang

Sumber: http://analisisnews.com/analisis/resensi-buku/447-you-are-not-alone

The Heike Story, Kisah Epik Jepang Abad ke-12

The Heike Story, Kisah Epik Jepang Abad ke-12
Buku
Judul : The Heike Story, Kisah Epik Jepang Abad ke-12
Penulis : Eiji Yoshikawa
Penerjemah : Antie Nugrahani
Penerbit : Zahir Books, Jakarta
Cetakan : I, Juni 2010
Tebal : 750 halaman
ISBN : 978-602-97066-0-4

Menilik Sejarah Jepang Abad ke-12
Oleh Benni Setiawan*)

Menyebut Jepang, tentu kita akan terbayang negeri maju dengan peradaban Timur yang memesona. Jepang menjadi kekuatan perekonomian di Asia bersama China dan India. Selain unggul dalam teknologi, Jepang juga dikenal sebagai Negeri Samurai.

Mengapa sebutan ini muncul untuk Jepang? Hal ini karena sejarah Jepang tidak dapat dipisahkan dari samurai. Samurai menjadi saksi bisu betapa perebutan kekuasaan selalu diwarnai dengan pertumpahan darah. Samurai juga merupakan simbol kejantanan masyarakat Jepang.


Sejarah Jepang dan samurai diurai apik oleh Eiji Yoshikawa dalam novel fiksi sejarah berjudull The Heike Story ini. Novel ini bercerita tentang kedigdayaan Heike Kiyomori selama masa penuh gejolak, yaitu pada abad ke-12.

Dikisahkan pada masa itu Kyoto adalah sebuah kota besar yang dirongrong oleh kriminalitas, gejolak masyarakat, dan nafsu angkara murka. Kaum bangsawan menindas rakyat jelata, sementara para biksu Budha bersenjata menyebarkan teror pada istana dan semua orang.


Para bangsawan, bagaimanapun, mengamati pertumbuhan kekayaan dan kekuatan para samurai dengan waspada. Tidak bisa disangkal lagi bahwa bahaya yang mengancam orde penguasa saat inilah yang menjadikan perubahan tersebut tidak terhindarkan, dan bahwa para bangsawan harus meminta perlindungan kepada samurai, karena tubuh kekaisaran sendiri sedang mendapatkan rongrongan dari luar maupun dalam. Pengaruh perdamaian terakhir antara Toba dan putranya. Sutoku, telah hilang bersama kepergian Nyonya Taikenmon ke biara, dan perseteruan antara kedua mantan kaisar tersebut semakin terbuka.

Kalangan istana meramalkan adanya perebutan kekuasaan. Sejumlah faksi telah memecah belah istana, dan berbagai persengkongkolan dan intrik susul menyusul dengan cepat. Para pendeta bersenjata dari Gunung Hieki dan Nara turut memperkeruh suasana dengan ancaman mereka untuk meledakkan perang saudara jika tuntutnan mereka pada istana tidak dikabulkan. Heike Tadamori dan Heike Kiyomori, juga Genji Tameyoshi ditugaskan untuk meredakan perlawanan para biksu dan mempertahankan istana (hal 149).

Di tengah keputusasaan, Kaisar menggalang dukungan dari keluarga Heike dan Minamoto untuk meredakan kemelut di ibu kota. Walaupun berhasil dalam menjalankan tugas tersebut, hubungan antara kedua keluarga samurai itu berujung pada pertikaian yang menjerumuskan Jepang ke dalam perang saudara selama seabad penuh.

Dari berbagai sumber yang membahas tentang periode itu, Heike Monogatori (Hikayat Heike), sebuah kisah epik yang menggambarkan keadaan pada awal abad ke-13, tidak lama setelah tumbangnya Heike, bertahan sebagai sebuah dokumen yang penting bagi sejarah dan salah satu karya sastra besar masa itu.

Tidak diragukan lagi bahwa kejatuhan Heike berkesan begitu mendalam di hati setiap penduduk Jepang karena puisi panjang yang menceritakan tentang akhir tragis klan Heike itu dinyanyikan di berbagai sudut negeri oleh para penyanyi balada yang tampil dengan kecapi mereka. Dan hingga berabad-abad sejak pertama kali dilantunkan, lagu itu menjadi salah satu romansa kesukuan penduduk Jepang, yang menjadikan para pahlawan di dalamnya sebagai idola.

Kendati dikenal sebagai seorang pria yang lemah lembut dan berwawasan luas, sepak terjangnya meninggalkan jejak berdarah. Perubahan dramatis nasib Kiyomorilah yang menjadi inti dari novel epik ini.

Novel ini merupakan versi terjemahan modern dari sebuah kisah klasik Jepang. Atmosfer yang eksotis, kekuatan narasi, keindahan tutur kata, dan kelirisannya akan memikat para pembaca buku ini.

Novel ini juga merupakan sebuah karya berharga. Pasalnya, novel ini bercerita tentang sejarah Jepang dengan gaya sastra. Kelebihan penulisan sejarah dengan karya sastra adalah setiap orang tidak merasa bosan dengan alur pembahasan sebagaimana penulisan sejarah dalam narasi teks.

Sebagai sebuah karya sastra, tentunya novel ini dibumbui dengan dramatisasi agar pembaca tidak merasa bosa. Namun, data yang dikumpulkan oleh Yoshikawa cukup kaya, sehingga pembacaan terhadap sejarah Jepang menjadi semakin menarik dan penuh inspirasi.

Pada akhirnya, jika Anda ingin mengetahui sejarah Jepang abad ke-12 yang cukup memengaruhi kehidupan masyarakat Negeri Matahari Terbit, novel yang ditulis oleh Yoshikawa ini sangat membantu. Selamat membaca.

*) Benni Setiawan, Pembaca buku, tinggal di Sukoharjo, Jawa Tengah.

Sumber:http://analisisnews.com/analisis/resensi-buku/432-menilik-sejarah-jepang-abad-ke-12

365 Hari Berpikir Positif

365 Hari Berpikir Positif
Buku
Judul : 365 Hari Berpikir Positif
Penulis : Brook Noel
Penerjemah : Maria Asri & Nyi Indah Kristiani
Penerbit : Daras Books, Jakarta
Cetakan : 2010
Tebal : 340 Halaman
ISBN : 978-979-1208-41-3

Menyambut Hari dengan Optimisme
Oleh Benni Setiawan*)

Orang-orang sukses dan beruntung selalu berprinsip bahwa hari ini harus lebih baik daripada hari kemarin. Hari kemarin adalah sejarah hidup yang patut menjadi semangat baru menyambut hari esok. Menyemai spirit hidup merupakan modal awal setiap insan untuk berbuat baik dan menjadikan hari ini sebagai ladang amal dan ibadat.

Inilah pesan yang dapat diambil dari buku 365 Hari Berpikir Positif. Buku ini akan mengantarkan Anda menapaki hari demi hari dalam setahun dan membuka cakrawala Anda. Membaca buku ini Anda akan mendapat energi positif yang memancar dalam setiap untaian kata.

Kelebihan lain buku ini terletak pada setiap tanggal dimulai dengan kutipan-kutipan pendek dari tokoh-tokoh yang semakin menguatkan bahwa buku ini bukan hanya buku harian biasa, namun sebuah buku penting yang sarat dengan rujukan yang memadai.



Sebagaimana tercermin pada kutipan tanggal 27 Oktober dari John F. Kennedy. “Ada biaya dan risiko dalam sebuah tindakan, namun lebih sedikit dari risiko jangka panjang dan biaya dari ketidaknyamanan karena tidak melakukan sesuatu” (hal. 280).

Jika kita renungkan, petuah bijak mantan Presiden Amerika Serikat ini pas dengan kondisi Indonesia saat ini. Dimana pemimpin kita selalu tidak berdaya dalam bertindak. Mereka selalu menyalahkan alam, ketiadaaan aturan, pernyataan-pernyataan klise lainnya dalam menghadapi musibah bencana alam dan korupsi yang semakin nyata. Pemimpin bangsa harus cepat bertindak dan tidak perlu mengulur waktu.

Selain itu pemimpin wajib bertanggung jawab. Bertanggung jawab adalah satu dari tugas pribadi kita yang paling penting. Tanggung jawab membuat perbedaaan antara yang rata-rata dengan yang hebat. Sayangnya, kebangnyakan dari dunia sudah mengembangkan “mentalitas karbon”, di mana lebih mudah untuk menyalahkan orang lain daripada bertanggung jawab. Ketika kita mempelajari bahwa kita bertanggung jawab atas tindakan, pemikiran, tujuan, dan masa depan kita, kita bisa mulai untuk membuat jalan menuju kehebatan. Jika kita terjebak di mentalitas karbo, maka kita selalu menyerahkan takdir kita di tangan orang lain.

Ahli manajemen diri, Calor Gerber Allred, Ph.D, pengarang Positive Actions for Living, menawarkan pemahaman ini ke dalam manajemen diri. “Apakah kita menyadari atau tidak, kita semua adalah manajer yang bertanggung jawab atas sumber daya kita sendiri. Semua orang mempunyai sumber daya waktu, energi, bakat, uang, harta, pemikiran, tindakan, dan perasaan yang harus kita atur. Kita merasa baik tentang diri kita ketika kita mengatur sumber daya kita dengan baik”.

Kita bertanggung jawab atas tindakan kita sendiri. Entah siapa yang berusaha menggoyahkan atau mendukung kita, pada akhirnya kita sepenuhnya bertanggung jawab atas semua yang kita lakukan. Ketika bertindak dalam bentuk apapun, ketahuilah bahwa Anda bertanggung jawab atas hasil positif atau negative dari tindakan Anda.

Menyalahkan tidak perlu ada. Menyalahkan orang lain adalah bibit dari mentalitas karbon. Menyalahkan memungkinkan orang untuk menghindar dari tanggung jawab dan tindakan. Ketika kita produktif dan bertanggung jawab, tidak aka nada kejadian menyalahkan.

Serahkan rasa berasalah itu. Dengan bertanggung jawab, kita terikat untuk membuat keputusan yang tidak selalu menjadi “yang terbaik” atau “benar”. Tidak apa-apa. Lebih baik membuat kesalahan dan belajar daripada menyalahkan dan berhenti (hal 197).

Selain bertanggung jawab, buku ini mengajarkan kepada kita arti penting optimisme. Sikap inilah yang akan selalu menemani kita dalam setiap keadaan. Dan menjauhkan diri kita dari sikap pesimis.

Menurut Winston Churchill, orang pesimis melihat kesulitan di setiap kesempatan. Orang optimis melihat kesempatan di setiap kesulitan.

Pada akhirnya, buku ini menawarkan inspirasi, konsep, dan strategi yang cemerlang untuk membantu Anda menjalani kehidupan terbaik Anda setiap hari dengan pengharapan yang positif. Dengan menjalaninya, maka Anda diarahkan untuk meraih kesuksesan dan kebahagiaan dalam setiap hari yang Anda jalani. Ibarat sarapan pagi, buku ini adalah “sarapan emosional’ yang bisa Anda nikmati setiap pagi sebagai sumber kekuatan mental dalam menjani hari yang penuh tantangan.

*) Benni Setiawan, alumnus Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Sumber: http://analisisnews.com/analisis/resensi-buku/428-365-hari-berpikir-positif

Harry Potter Complete Collection 1-7

Harry Potter Complete Collection 1-7
Gratis!
Ebook "Harry Potter Complete Collection 1-7" ini berbentuk digital, bukan lagi PDF jadi untuk para penggemar Harry Potter bisa membacanya lebih nyaman.

Mohon maaf, berhubung link download yang lama telah rusak, maka kami berikan link download dari agan kita melalui kotak komentar. silahkan DOWNLOAD DI SINI

Perbandingan Komunikasi Politik Presiden Indonesia

Perbandingan Komunikasi Politik Presiden Indonesia
Buku
Sumber: Kompas.com, Minggu, 5 April 2009
Penulis: Prof Dr Tjipta Lesmana, M.A.
Terbit : Januari 2009
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 978-979-22-4095-5
Halaman: 426 / HVS

Dalam sebuah tesisnya, Weber pernah menengarai adanya suatu perubahan sosial masyarakat. Perubahan itu tampak jelas ketika adanya suatu perbandingan yang membedakan antara masyarakat zaman sekarang dengan masyarakat sebelumnya. Menurutnya, perubahan itu tidak lepas dari perubahan intelektualitas yang dimiliki individu-individu yang terdapat dalam masyarakat itu sendiri.

Sebagai makhluk sosial, para presiden pun tidak lepas dari perbedaan antara presiden satu dengan lainnya. Termasuk dari aspek pemahaman maupun penyikapannya terhadap realitas kehidupan bangsa-negara. Memang, secara geneologis jabatan presiden yang dipikul mereka pun tidak jauh berbeda dalam tataran hukum yang mengikat dan mengatur. Namun, dalam praksisnya, pasti akan muncul sejumlah perbedaan. Dari perbedaan-perbedaan inilah yang kemudian menimbulkan sederet realitas kehidupan bangsa-negara yang tidak mesti sama.

Namun, dalam buku ini, tingkat perbedaan intelektulitas seorang presiden dengan presiden lainnya, terbukti bukan satu-satunya faktor yang mempengaruhi perubahan sosial bangsa-negara. Menurut Tjipta Lesmana, perbedaan tingkat emosional dan spiritual juga memiliki andil dalam perubahan. Artinya, tingkat perbedaan intelektualitas, emosionalitas, dan spiritulitas antara Soekarno, Soeharto, Habibie, Gus Dur, Megawati, dan SBY, berkorelasi positif dengan perbedaan pola interaksi sosial mereka. Dari perbedaan interaksi sosial yang berkaitan erat dengan pola komunikasi inilah yang akhirnya menghasilkan sesuatu yang berbeda pula. Mulai intrik, lobi politik hingga menyikapi kritik pun, mereka belum tentu sama dalam satu pola komunikasi politik.

Dalam buku ini, kajian komunikasi politik keenam presiden kita dibagi dalam enam bab. Bab I, di duduki oleh Soekarno. Dalam bab ini, presiden pertama kita ini tampak sebagai sosok yang memiliki ilmu yang dalam, piawai menganalisis situasi politik, matang dalam berpolitik, dan berani menghadapi tantangan dan tegas. Namun, ”Singa Podium” ini tak ubahnya seperti manusia biasa yang punya amarah dan salah. Dalam kemarahannya, ia sering menggebrak meja, menggedor kiri-kanan, menghardik sasaran dengan suara yang keras, menantang, memperingatkan dan mengancam (hlm.5). Semua itu sering disampaikannya dalam bahasa, meminjam istilah Edward T. Hall (1976), yang low context; jelas, tegas, dan tanpa tedeng aling-aling. Selain itu, ia sering menggunakan bahasa yang mengulang-ulang.

Berbeda dengan Soeharto, dalam bab II, yang lebih banyak mendengar dan mesem (senyum). Dalam berkata, ia sering menggunakan bahasa yang high context; tidak jelas, penuh kepura-puraan (impression management), teka-teki, rahasia, dan amat santun serta multi tafsir. Tidak jarang para menteri perlu merenungkan atau menanyakan kepada orang lain tentang arti dari kominikasi presiden terhadap mereka. Bagi yang tidak memahami komunikasi tingkat tinggi ini, perlu siap-siap menuai gebukan atau perlawanan rakyat dan lingkungan sekitar. Semisal, kasus penyerbuan massa PDI Soerjadi terhadap Kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro pada 27 Juli 1996. Dalam kasus ini, Sutiyoso yang dianggap bertanggung jawab waktu itu, berdalih bahwa peristiwa itu berasal dari perintah ”atasan”. Sementara, Feisal Tandjung mengatakan bahwa Soeharto tidak pernah memerintahkan penyerbuan (hlm.67).

Uniknya, dalam kondisi marah atau tidak suka pun, ”The Smiling General” ini menggunakan bahasa high context pula. Semisal, ketika ada menteri yang laporan atau dipanggil diruang kerja presiden telah dipersilahkan meminum minuman yang tersedia, berarti diperintahkan segera untuk pamit. Meski begitu, Soeharto juga pernah menggunakan bahasa low context.

Berbeda lagi ketika Presiden BJ. Habibie marah. Dalam bab III, ia tampak menggunakan bahasa low context. Ketika marah, ia sering melototkan mata kepada yang dimarahi, raut muka memerah dan suara keras. Ia juga dikenal sebagai sosok yang temperamental. Meski cerdas, ia cepat emosi dan cepat marah, terlebih ketika ditantang, dikritik, dan didebat. ”Anehnya, tidak ada satupun menteri yang takut”, menurut informan Hendropriyono (hlm.159).

Dalam bab IV, ketika Abdurrahman Wahid (Gus Dur) marah, kadang menggebrak meja dan atau mengancam. Meski begitu, Gus Dur tidak lepas dari sifat gampang tidur dan humorisnya. Sering dalam setiap sidang kabinet yang berlangsung sejak pukul 10.00 WIB, Gus Dur melakukan ritual tidur. Ketika salah atau mendapat konfirmasi dari orang yang merasa dirugian, Gus Dur sering menanggapinya dengan santai. ”Oh, begitu, ya? Ya, Sudah. Enggak usah dipikirin…!”, jawabnya (hlm.199).

Sedangkan Megawati, dalam bab V, setiap marah suka menghardik korbannya. Semisal, ketika Megawati sedang menghadiri acara dengan sejumlah kerabatnya di restoran sebuah hotel mewah di Singapura. Dalam acara itu, Roy BB. Janis dihardik habis-habisan di depan umum akibat kedatangannya tidak diundang (hlm.283). Selain itu, ia juga terkenal pendendam. SBY merupakan salah satu contoh yang menjadi korban sifat pendendam itu. Dalam debat calon presiden 2004, misalnya, gara-gara menaruh dendam dengan SBY, Megawati mengajukan syarat kepada penyelenggara acara untuk menghapus acara jabat tangan antar calon. Dalam pelantikan Presiden SBY pun, Megawati tidak mau menghadirinya.

Dalam berkomunikasi, menurut penulis, Megawati tidak bisa efektif. Ia lebih suka diam atau menebar senyum dari pada berbicara. Selama berpidato, suaranya tampak datar, nyaris tidak ada body language sama sekali. Ia membaca kata per kata secara kaku, seolah takut sekali pandangannya lepas dari teks pidato di depannya (hlm.247). Ironisnya, dalam setiap pembicaraan dengan orang-orang dekatnya lebih banyak membicarakan shopping dari pada soal-soal yang berkaitan dengan bangsa dan negara. Dalam menghadapi kritik, ia sering tidak tahan, alergi kritik (hlm.265).

Meski tidak jarang menuai kritik, dalam bab VI, SBY tampak merasa gerah pula. Bahkan, SBY sering balas mengkritik bagi orang atau pihak yang berani mengkritiknya, termasuk kebijakan pemerintah. Namun, dalam setiap pembicaraannya, SBY tergolong cukup hati-hati. Seolah-olah setiap kata yang keluar dari bibirnya diartikulasikan secara cermat. Dalam perspektif komunikasi, SBY tergolong dalam lower high context. Ia gemar menggunakan analogi dalam menggambarkan suatu masalah dan tidak bicara secara to the point. Hanya hakikat suatu permasalahanlah yang sering disampaikannya. Dalam berbagai kesempatan, SBY seperti sengaja tidak mau memperlihatkan sikapnya yang tenang, tetapi membiarkan publik menebak-nebak sendiri.

Tidak sedikit informasi tentang komunikasi keenam presiden kita dalam buku ini. Selain unik, bikin tercengang, tertawa, dan kesal, buku ini memberikan berbagai wawasan terkait kepribadian beberapa presiden yang pada pemilu tahun ini hendak tampil sebagai calon presiden lagi. Namun, untuk mengetahui apakah dari sejumlah presiden itu tergolong –meminjam istilah Kurt Lewin- Authoritarian, Participative, atau Delegatif, pembaca dipersilahkan menyimpulkan sendiri.***

Sumber :
I. http://resensibuku.com/?p=278
II. http://www.perpusonline.com/perbandingan-komunikasi-politik-presiden-indonesia.html

Generasi Unggul dengan Otak Tengah

Generasi Unggul dengan Otak Tengah
Buku
Sumber: Jawa Pos, Minggu, 14 Maret 2010
Judul Buku: Dahsyatnya Otak Tengah
Peresensi:Adi Baskoro
Penulis: Hartono Sangkanparan
Penerbit : Visimedia
Tebal: xvi 148 halaman

AKTIVASI otak tengah adalah fenomena baru di Indonesia. Kurang lebih enam bulan lalu, aktivasi otak tengah untuk anak usia lima hingga lima belas tahun mulai meramaikan workshop edukasi dan perkembangan otak anak. Inikah cara instan menjadikan anak Anda genius dan “hebat”?

Di Malaysia, otak tengah dikenal sejak lima tahun lalu. Bahkan oleh pemerintah Malaysia, aktivasi otak tengah langsung direspons positif, terkait pengembangan pendidikan anak-anak. Sedangkan di Indonesia, aktivasi otak tengah dikenalkan David Ting dari negeri jiran.

Sementara di Jepang, sudah lebih dari 40 tahun silam aktivasi otak tengah telah teruji dan terbukti. Namun, Negeri Sakura itu tidak membuka rahasia teknik aktivasi ke publik di luar Jepang.

Pembedaan adanya otak kiri dan otak kanan umum kita kenal. Otak kiri dikenal berperan pada logika, pembelajaran bahasa, angka, tulisan, dan hitungan. Sedangkan otak kanan berperan pada daya kreativitas, imajinasi, dan lainnya. Nah, otak tengah (mesencephalon) berfungsi sebagai jembatan penghubung antara otak kanan dan otak kiri. Selain itu, otak tengah berfungsi sebagai keseimbangan.

Otak tengah juga diyakini sebagai perkembangan pertama dalam pertumbuhan janin. Otak tengah adalah bagian terkecil dari otak yang berfungsi seperti stasiun relai untuk informasi pendengaran dan penglihatan. Otak tengah juga berperan untuk meningkatkan kemampuan mengasihi orang lain.

Otak tengah tidak saja bisa diaktifkan secara “manual”, tapi juga aktif secara alami. Orang-orang yang otak tengahnya aktif secara alami biasanya disebut orang-orang dengan kemampuan luar biasa. Misalnya, tunalnetra yang bisa “melihat” dimungkinkan otak tengahnya aktif secara alami.

Otak tengah sudah lama masuk ranah penelitian medis kedokteran. Penelitian otak tengah berhubungan dengan frekuensi gelombang otak (alpha hingga tetha) yang dikenal bisa mengondisi tubuh manusia menjadi rileks dan nyaman.

Sesuai penamaan, otak tengah terletak di posisi tengah di antara otak kiri dan kanan. Otak tengah mendominasi perkembangan otak secara keseluruhan. Di dalam kandungan, ukuran otak tengah, jika dibandingkan dengan bagian otak lain, paling dominan. Bahkan, bayi dalam kandungan diduga dapat melihat keluar rahim ibunya lewat perantara otak tengah (hlm 79-80).

Metode mengaktifkan otak tengah oleh GMC (Genius Mind Consultancy) itu dilakukan dengan komputerisasi, bermain, dan mendengarkan suara. Penulis buku ini meyakini keberhasilan pengaktifannya hingga 90 persen.

Dalam buku ini, Hartono menyebutkan, bila otak tengah telah diaktifkan, daya konsentrasi akan meningkat, kemampuan fisik dalam olahraga akan berkembang, otak kanan dan kiri lebih seimbang, ada keseimbangan hormon, serta daya intuisi meningkat. Terkait mental anak, manfaat secara umum otak tengah, anak yang hiperaktif bisa duduk dengan tenang. Anak yang diam menjadi lebih aktif.

Efek-efek yang ditimbulkan setelah otak tengah diaktifkan bermacam-macam dan masing-masing anak tidak dapat disamakan. Misalnya, ada yang dominan dengan intuisinya, seperti bisa memprediksi kejadian masa mendatang, membaca warna dengan mata tertutup, dan sebagainya.

Ada efek “ajaib” yang ditimbulkan setelah otak tengah anak diaktifkan. Salah satunya bisa mendeteksi penyakit, menerima sinyal firasat, menebak kartu, mewarnai tanpa melihat, dan lainnya. Namun, efek di sini tidak dimaksudkan untuk mengarahkan anak menjadi pesulap atau cenayang. Sekali lagi metode tutup mata dimaksudkan untuk melatih otak tengah yang telah diaktifkan agar tidak tertidur lagi.

Hanya, mengapa otak tengah tidak diaktifkan saat usia anak 0 hingga 5 tahun atau di atas usia 15 tahun, tidak dijelaskan secara rinci. Hartono (penulis buku ini) mengatakan bahwa sangat mungkin setelah usia 15 tahun, otak tengah akan sulit diaktifkan.

Dalam buku ini juga tidak dipaparkan bagaimana cara mengaktifkan otak tengah secara khusus dan detail untuk mendapatkan gambaran yang terang. Untuk menutupi kekurangan itu, Hartono coba menunjukkan secara audiovisual lewat video penyerta dan alamat-alamat website pendukung informasi otak tengah. Dalam video tersebut, didokumentasikan demo anak-anak yang telah diaktifkan otak tengahnya. Selain itu, video penyerta berisi wawancara dan testimoni dari orang tua yang otak tengah anak-anaknya diaktifkan.

Informasi dalam buku ini menambah terobosan baru yang bersinggungan dengan dunia edukasi dan perkembangan kecerdasan anak. Namun, biaya aktivasi otak tengah yang relatif mahal bisa menjadi kendala di kalangan masyarakat menengah-bawah. Nah, semestinya, hasil penelitian yang sudah teruji dan terbukti itu direspons pemerintah, baik melalui departemen pendidikan nasional maupun dinas kesehatan.

Sumber :
I. http://resensibuku.com/?p=636
II. http://www.perpusonline.com/generasi-unggul-dengan-otak-tengah.html

Novel Maryamah Karpov - Andrea Hirata

Novel Maryamah Karpov - Andrea Hirata
Gratis!

Novel Maryamah Karpov - Andrea Hirata - Maryamah Karpov adalah novel keempat karya Andrea Hirata yang diterbitkan oleh Bentang Pustaka pada November 2008. Maryamah Karpov merupakan buku terakhir dari Tetralogi Laskar Pelangi dan terdiri dari 2 buku , bagian pertamanya dengan sub judul : Mimpi-Mimpi Lintang. Di buku ini rencananya Andrea akan mengisahkan tentang Arai, Lintang, A Ling, dan beberapa pertanyaan yang belum sempat terjawab di 3 buku terdahulu.

Maryamah Karpov dirilis pada tanggal 28 November 2008 di toko buku MP Book Point, Jakarta, dan beredar secara resmi mulai tanggal 29 November 2008.Launching buku ini mendapatkan expose yang cukup besar dari media massa dan mendapat perhatian banyak dari khalayak pecinta buku terutama oleh penggemar tetralogi Laskar Pelangi.

Petikan dari buku Maryamah Karpov :

Keberanian dan keteguhan hati telah membawa Ikal pada banyak tempat dan peristiwa. Dengan sepenuh hati, Ikal rela berlayar mengunjungi pulau "Batuan" atau lebih dikenal sebagai pulau tempat para lanun berkumpul dan bersembunyi dari polisi. Ikal bersusah payah ke pulau itu hanya untuk bertemu A Ling, ia tidak peduli akan nyawanya. Keberaniannya ditantang ketika tanda-tanda keberadaan A Ling tampak. Dia tetap mencari, meski tanda-tanda itu masih samar. Dapatkah keduanya bertemu kembali? Novel ini menceritakan semua hal tentang Laskar Pelangi, A Ling, Arai, Lintang, dan beberapa tokoh dalam cerita sebelumnya. Tetap dengan sihir-sihir yang berupa kata-kata dalam bentuk tulisan, Anda akan dibawa Andrea pada kisah-kisah yang menakjubkan sekaligus mengharukan. (http://id.wikipedia.org/wiki/Maryamah_Karpov)

Download eBook Novel Maryamah Karpov
Jangan lupa download pula aplikasi pembaca ebook agar ebook di atas dapat terbuka di komputer Anda, silahkan download di sini

eBook Hosting by mrikartayusani.blogspot.com